Minggu, 24 Desember 2017

Ritual Metulak ( Tolak Balaq )

Metulak adalah upacara tolak balaq, untuk menolak   penyakit, atau gangguan roh jahat. Belum ada sumber yang menyebutkan kapan pertama kali upacara metulak digelar. Namun, berdasarkan tradisi lisan, metulak pertama kali digelar oleh leluhur sasak yang tinggal di Desa Pujut Lombok Tengah.

Pelaksanaan upacara metulak diistilahkan dengan besentulak. Semula upacara ini adalah tradisi leluhur praIslam, namun dalam perkembangan kemudian pengaruh Islam mulai masuk. Berdasarkan pengaruh Islam tersebut, maka kini pelaksanaan besentulak umumnya diisi pembacaan barzanji, yaitu syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, bukan mantra-mantra seperti zaman dulu. Meskipun demikian, ritual leluhur praIslam tersebut masih tampak dari syarat-syarat dan makna simbol yang mengiringi pelaksanaan besentulak.


Pro Tradisi Metulak

Masyarakat suku sasak masih memegang teguh pada nilai-nilai kultural dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi tersebut. Nilai-nilai yang dapat di ambil dari tradisi metulak adalah kebersamaan, menolak segala bencana bagi diri dan masyarakat, memperbanyak bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Kontra Tradisi Metulak

Tradisi ini masih berkembang dan dipertahankan oleh masyarakat suku sasak. Hanya saja pada perkembangannya upacara ini sudah jarang dilakukan secara utuh. Ada beberapa perubahan seperti pemimpin upacara yang asalnya kepala desa (datu) menjadi ulama atau pemuka agama.

Penyelesaian Pro dan Kontra Ritual Adat Metulak

Setiap ritual adat yang ada di masyarakat selalu tenggelam oleh zaman yang semakin modern. Jika adat metulak jarang dilakukan. Maka sebaiknya kepala kampung atau desa mengajak semua masyarakat setempat untuk melakukan ritual tersebut.  Selain itu beberapa cara adat metulak berbeda di setiap kampung, beberapa kampung mengadakan ritual adat metulak sampai satu minggu penuh. Lalu setiap hari masing-masing keluarga membawa makanan untuk dibagikan kepada warga yang ikut ritual metulak. Metulak biasa dilakukan sore hari dengan rute perjalanan di sekitar kampung, mengelilingi sekitar kampung sambil bersholawat dan berdzikir. sebagai contoh metulak di Lingkungan Peresak Timur metulak dilakukan hanya satu kali pada hari tertentu, masyarakat mengelilingi kampung sambil bersholawat dan berdzikir. Kami juga berhenti beberapa kali lalu seorang muadzin adzan di tempat pemberhentian.
Hal terpenting dalam ritual ini adalah bagaimana kita sebagai masyarakat bisa mengambil nilai-nilai kultur yang baik dan bisa menyesuaikan ritual tersebut dengan zaman. Ritual metulak tidak bisa tetap bertahan jika masih dilakukan dengan cara zaman dahulu. Tetapi ritual akan tetap berjalan apabila dilakukan secara baik dengan mengikuti perkembangan zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar