Metulak adalah upacara tolak balaq, untuk
menolak penyakit, atau gangguan roh
jahat. Belum ada sumber yang menyebutkan kapan pertama kali upacara metulak
digelar. Namun, berdasarkan tradisi lisan, metulak pertama kali digelar oleh
leluhur sasak yang tinggal di Desa Pujut Lombok Tengah.
Pelaksanaan upacara metulak diistilahkan
dengan besentulak. Semula upacara ini adalah tradisi leluhur praIslam, namun
dalam perkembangan kemudian pengaruh Islam mulai masuk. Berdasarkan pengaruh
Islam tersebut, maka kini pelaksanaan besentulak umumnya diisi pembacaan
barzanji, yaitu syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, bukan
mantra-mantra seperti zaman dulu. Meskipun demikian, ritual leluhur praIslam tersebut
masih tampak dari syarat-syarat dan makna simbol yang mengiringi pelaksanaan
besentulak.
Pro Tradisi Metulak
Masyarakat suku sasak masih memegang teguh
pada nilai-nilai kultural dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam
tradisi tersebut. Nilai-nilai yang dapat di ambil dari tradisi metulak adalah
kebersamaan, menolak segala bencana bagi diri dan masyarakat, memperbanyak
bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Kontra Tradisi Metulak
Tradisi ini masih berkembang dan dipertahankan
oleh masyarakat suku sasak. Hanya saja pada perkembangannya upacara ini sudah
jarang dilakukan secara utuh. Ada beberapa perubahan seperti pemimpin upacara
yang asalnya kepala desa (datu) menjadi ulama atau pemuka agama.
Penyelesaian Pro dan Kontra Ritual Adat Metulak
Setiap ritual adat yang ada di masyarakat
selalu tenggelam oleh zaman yang semakin modern. Jika adat metulak jarang
dilakukan. Maka sebaiknya kepala kampung atau desa mengajak semua masyarakat
setempat untuk melakukan ritual tersebut. Selain
itu beberapa cara adat metulak berbeda di setiap kampung, beberapa kampung
mengadakan ritual adat metulak sampai satu minggu penuh. Lalu setiap hari
masing-masing keluarga membawa makanan untuk dibagikan kepada warga yang ikut
ritual metulak. Metulak biasa dilakukan sore hari dengan rute perjalanan
di sekitar kampung, mengelilingi sekitar kampung sambil bersholawat dan
berdzikir. sebagai contoh metulak di Lingkungan Peresak Timur metulak dilakukan hanya satu kali pada hari tertentu, masyarakat mengelilingi kampung sambil bersholawat dan berdzikir. Kami
juga berhenti beberapa kali lalu seorang muadzin adzan di tempat pemberhentian.
Hal terpenting dalam ritual ini adalah
bagaimana kita sebagai masyarakat bisa mengambil nilai-nilai kultur yang baik
dan bisa menyesuaikan ritual tersebut dengan zaman. Ritual metulak tidak bisa
tetap bertahan jika masih dilakukan dengan cara zaman dahulu. Tetapi ritual
akan tetap berjalan apabila dilakukan secara baik dengan mengikuti perkembangan
zaman.